Rabu, 26 Januari 2011

Judas: Penghianat Atau Pembebas Kristus?

1. Judas: Penghianat Atau Pembebas Bagi Yesus?

Ribuan tahun sudah Judas Iskariot dianggap sebagai musuh nomor wahid Yesus Sang Penebus. Ia dianggap berhianat dengan menjual Yesus kepada Rabbi Yahudi yang berkonspirasi dengan Romawi, dengan imbalan beberapa keping emas, yang diistilahkan sebagai ‘uang darah’. Penghianatan ini berujung kepada penyaliban Kristus di Bukit Zaitun, dan dari sanalah kemudian lahir konsep Penebusan dalam tradisi Kristen hingga saat ini.

Dalam Injil Lukas, diceritakan bahwa iblis merasuki Judas, yang memang menjadikan Yesus sebagai musuh abadi. Bahkan dalam Injil Yohannes, Yesus sendiri mengatakan bahwa (dengan bahasa yang tersurat), Judas adalah iblis itu sendiri. Dalam tradisi Kristiani, penghianatan Judas dilakukan dalam babak yang disebut sebagai ‘the kiss of Judas’, yang menempatkan salah satu murid Yesus itu sebagai pendosa untuk selama-lamanya. Injil Matius, mengisahkan akhir penyesalan Judas dengan keputusannya menggantung dirinya sendiri. Terjadi sedikit perbedaan kisah, dimana dalam Kisah Para Rasul, Judas diceritakan tewas menggenaskan dengan usus terburai dari perutnya yang robek.

Judas, merupakan murid yang berada dalam lingkaran inti Yesus selama pengembaraannya. Bahkan dalam Injil Yohannes, Judas diketahui merupakan bendahara bagi kelompok kecil tersebut. Dalam Jamuan Terakhir (The Last Supper), Yesus sendiri yang meminta agar Judas melakukan apa yang harus dilakukannya, tanpa menyebutkan secara jelas apa maksud dari perkataan tersebut. Muncul beberapa penafsiran yang membingungkan. Sebagian pembela Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus telah mengetahui ia akan dikhianati oleh muridnya sendiri, dan perkataan itu ditujukan kepada Judas. Namun ada penafsiran dari perspektif yang berbeda, dimana perkataan Yesus tadi dimaknai sebagai ‘perintah’ kepada Judas untuk melakukan ‘pengkhianatan’ bersejarah tersebut.

Penemuan Injil Judas (The Gospel of Judas) di Mesir, pada tahun 1970, yang kemudian direstorasi oleh para sarjana pada tahun 2001, semakin membenarkan penafsiran kontroversial tersebut. Dalam Injil Judas, dikisahkan bahwa Yesus sendiri yang meminta agar Judas membebaskan jiwanya dari kungkungan raga, untuk melepaskan keilahian Yesus. Hal ini dilakukan Yesus sebab, Judaslah murid yang mengetahui siapa sesungguhnya sosok Yesus.

“Saya tahu siapa engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian…”

Kalimat diatas adalah penggalan ucapan Judas dalam Injilnya. Dan sama dengan kisah pada Injil baru, Judas memang pada akhirnya mengkhianati Yesus, namun ia melakukannya dengan penuh kesadaran, tanpa dirasuki iblis apapun seperti yang dituduhkan Perjanjian Baru padanya. Ia melakukannya karena ia hendak membebaskan sosok ‘ilahiah’ dalam diri Yesus, sehingga kisah-kisah penebusan dosa umat manusia dapat dimulai. Dan bukankah, tanpa adanya penyaliban, tidak akan ada sejarah kekristenan seperti saat ini?

“Adalah lebih baik bagi orang itu (Judas) sekiranya dia tidak dilahirkan” (Markus, 14:21)

Jika perkataan dalam Injil Markus ini menjadi kenyataan, apakah akan ada kekristenan seperti yang kita kenal sekarang? Jadi, bagaimana seharusnya kita memandang posisi Judas Iskariot, Pengkhianat atau Pembebas Yesus? Mungkinkah ‘serangan’ terhadap sosok Judas dalam 4 Injil Baru sebagai bentuk rasa sakit hati murid-murid Yesus karena Judas adalah kesayangan Sang Penebus? Satu-satunya murid yang diajarkan mengenai rahasia pengetahuan? Bukankah mereka adalah manusia yang juga memiliki rasa amarah, benci dan dendam? Kebencian yang tampak jelas pada penamaan-penamaan yang buruk dan mencela kepada Judas dalam Injil-Injil baru…

Perdebatan kemudian muncul di masyarakat. Pembela Perjanjian Baru, termasuk otoritas gereja mati-matian menolak Injil Judas sebagai ‘kabar baik’ yang sejati. Bahkan ada yang secara ekstrim mengatakan Injil Judas adalah palsu dan tidak mewakili cerita sebenarnya dari sejarah Kristus. Aliran yang lebih moderat mengambil jalan tengah, dengan menyebutkan bahwa Injil Judas merupakan bagian dari serangkaian injil-injil gnostik (berkaitan dengan rahasia ilmu pengetahuan, mistis, atau sebagian menganggapnya sebagai sihir dan bid’ah). Dan oleh karenanya, Injil Judas tidak dikategorikan sebagai ‘kabar baik’ bagi umat kristiani.

Pertanyaannya kemudian, mengapa sulit bagi otoritas gereja menerima fakta bahwa injil-injil gnostik merupakan bagian dari sejarah kekristenan? Kita ingat betul, bahwa perburuan aliran gnostik yang dianggap bid’ah, telah dimulai sejak lama oleh Irenaeus, seorang penulis injil pada era Gereja Lama (Gereja Purba) sekitar tahun 180-an Masehi. Aliran-aliran gnostik dianggap sesat karena mengajarkan rahasia-rahasia gaib dan ilmu pengetahuan tinggi yang ketika itu dianggap sebagai sihir. Namun yang paling kontroversial adalah, ada paham gnostik yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang dirasuki oleh roh illahiah untuk memperingatkan manusia. Dan inilah yang menjadi intisari dari Injil Yudas, dimana ia sendiri bertindak sebagai ‘pembebas’ roh ilahi pada tubuh manusia Yesus. Aliran ini menentang keyakinan tradisi trinitas Kristiani yang mengatakan bahwa Yesus adalah anak sekaligus Tuhan itu sendiri. Sehingga para sarjana dan pemikir kritis memaklumi bagaimana sengitnya pembela Perjanjian Baru menyikapi penemuan tersebut.

“Adalah suatu keajaiban jika Judas yang menulis sendiri Injil tersebut, karena dia telah meninggal seratus tahun sebelum dokumen itu ditulis!” Demikian pembelaan dari James Catford, Ketua Perkumpulan Bible Society.

Tapi siapa yang bisa memastikan tahun persisnya dokumen itu ditulis? Metode ilmiah untuk menentukan usia sebuah dokumen tidak menjamin kepastian tahun pembuatan, mereka hanya mampu mengira-ngira tahun terdekat yang paling masuk akal. Dan bukankah naskah-naskah asli Injil Perjanjian Baru juga telah hilang? Lagipula jika dicermati lebih seksama, Injil Yudas berakhir pada cerita Ia menyerahkan Yesus kepada musuh, bukan pada saat kematiannya. Jadi sangat mungkin ia telah menulis Injil tersebut sebelum kematiannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar