Rabu, 26 Januari 2011

Pengkerdilan Peran Maria Dalam Bible

Penemuan osuarium Yesus Putra Yosef di Talpiot pada tahun 1980, yang kemudian dijustifikasi pada tahun 2005 melalui serangkai pengujian DNA dan lapisan patina, semakin menggelembungkan tanya dalam dada banyak insan yang mendamba pengungkapan sesungguhnya sejarah Kristus. Bagaimana ia dilahirkan, perannya mengabarkan firman Bapa, penghianatan muridnya, penangkapan, kematian, kebangkitan, kenaikannya, serta tentu saja, siapa wanita istimewanya.

Publik kerap dibimbangkan dengan nama Maria. Kebanyakan umat mengetahui bahwa nama Maria adalah ibunda Yesus yang melahirkannya dengan kuasa ruh suci yang merasuk ke dalam rahimnya. Bunda Maria, itulah yang lazim terdengar dan dipahami. Hal ini dikarenakan nama Maria yang satu ini dapat dikatakan kurang mendapatkan tempat yang layak dalam kisah-kisah di Perjanjian Baru. Bahkan ada yang ekstrim menyebutkan sosok Maria Magdalena adalah sosok wanita pendosa (seksual) pada Lukas:7, meskipun ayat tersebut tidak mencantumkan namanya sama sekali. Ide ini digagas pertama kali ketika Paus Gregory I mengidentifikasi sosok Maria Magdalena sebagai wanita pendosa pada Lukas 7:37, yang juga mencuci kaki Yesus dengan rambutnya. Dalam Perjanjian Baru, sosok ini adalah wanita yang mendampingi Yesus mengembara bersama 12 muridnya. Tidak ada cerita yang menguatkan perannya sebagai sosok sangat penting bagi Kristus.

Kegegeran bermula dari ditemukannya naskah-naskah Laut Mati di Nag Hammadi, Mesir pada tahun 1945, yang salah satunya adalah Injil Philip (Filipus). Menurut para sarjana, Kisah Perbuatan Philip dulu banyak dikutip oleh para penulis Kristen, sebelum banyak teks-teks asli yang hilang. Kisah Perbuatan Philip adalah bagian yang dianggap apokrifal (tidak sah) dari versi resmi Perjanjian Baru. Beberapa isinya dianggap kontroversial, diantaranya:

1. Injil ini mengatakan bahwa Maria Magdalena adalah saudara perempuan Philip. Yesus meminta Maria untuk ‘menanggalkan kewanitaannya’ agar pergi menemani saudaranya Philip yang pemarah.

“Karena mendengar hal ini, Philip menangis. Dia berpikir keras, tugas yang berbahaya ini, dan dia memperlemah ketetapan hatinya, dimana kemudian Yesus berpaling ke saudara perempuan Philip[1], untuk menguatkan dan membimbingnya: ‘Aku tahu bahwa kamu terpilih di antara kaum wanita (bahwa saudara lelakimu disakiti); tetapi pergilah dengannya, dan doronglah ia, karena aku tahu bahwa ia seorang lelaki pemarah dan gegabah; dan jika membiarkannya pergi sendiri, dia akan merepotkan yang lainnya…….(dst). Dan hendaklah kamu-ubahlah aspek wanitamu-dan pergilah dengan Philip….’”

Dari penafsiran para sarjana, tampak bahwa peran Maria Magdalena begitu penting, jauh lebih besar dari peran wanita secara umum dijaman Yahudi kuno, masa kehidupan Yesus, yang ketika itu sangat merendahkan wanita. Peran penting ini yang terasa kurang tersentuh oleh kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Banyak sejarawan mencurigai adanya ‘kesepakatan rahasia’ yang dilakukan oleh otoritas tertentu pada masa itu untuk mengerdilkan peran Maria Magdalena dalam kehidupan Kristus.

2. Teks Injil Philip yang paling menghebohkan adalah bagian yang menerangkan hubungan ‘tersembunyi’ antara Kristus dengan Maria Magdalena.

“Tuhan mencintainya (Maria Magdalena) lebih dari semua murid-murid yang lain dan sering menciumnya di…nya[2]

Mungkin sulit untuk mengakui kebenaran perkataan di dalamnya, tapi setidaknya para pemikir konspirasi dapat mengaitkan keterkaitan isi pada Injil Philip dengan apa yang dikatakan dalam Injil Maria (Magdalena[3]), yang ditemukan sebelumnya pada tahun 1896, oleh Dr. Carl Rheinhardt, di Kairo. Injil kontroversial ini terdapat dalam Akhmim Codex, yang kemungkinan ditulis pada abad ke 4 dan ke 5 M. Teks ini tertulis dalam bahasa Koptik.

“Jangan menangis…Tapi lebih baik kita memuji kebesaran-Nya, karena Dia telah mempersiapkan kita dan membuat kita menjadi lelaki(kutipan dalam Injil Magdalena, 5:1-3).

Para sarjana menyatakan bahwa perkataan Maria ‘menjadi lelaki’ relevan dengan perintah Yesus kepada Maria untuk ‘ubahlah aspek wanitamu’. Hal ini tentu menjadi sebuah argumentasi perlawanan terhadap ‘penghilangan’ Kisah-Kisah Philip dalam Perjanjian Baru yang dilakukan oleh gereja pada masa itu. Alasannya adalah, hal ini membuktikan bagaimana pentingnya peran seorang wanita bernama Maria Magdalena dalam kehidupan Kristus.

Para ahli konspirasi mengatakan bahwa mungkin ini merupakan sikap yang dilakukan oleh otoritas religi yang berkuasa ketika itu untuk mengerdilkan peran wanita, yang memang pada jaman Yahudi tidak diberikan porsi penting dalam masyarakat, dan bahkan pada masyarakat Yahudi lama, wanita tidak diperkenankan untuk membaca Taurat. Penguatan pada argumentasi ini didasarkan pada perkataan dalam Injil Tomas (bagian naskah gnostik dari Naskah Laut Mati yang ditemukan di Mesir, dan ditolak kebenarannya oleh gereja):

“..akhirnya bangkit dan berbicara melawan Maria Magdalena. Menyatakan bahwa seorang wanita tidaklah berharga dalam kehidupan spiritual, dua lelaki ini menuntut agar Maria dikeluarkan dari jemaah. Dan Yesus menjawab dengan sedikit humor,’Lihatlah! Aku akan membimbingnya agar membuatnya seperti lelaki, dan dia mungkin juga akan menjadi jiwa yang hidup seperti layaknya kalian, para lelaki dan…lelaki dan perempuan (diciptakan) untuk menjadi satu, supaya lelaki tidak akan menjadi lelaki dan perempuan tidak akan menjadi perempuan’” (Injil Tomas, ayat 114).

Kecemburuan para rasul lelaki terhadap Maria (wanita) juga tergambar dari Injil Maria Magdalena (18):

“Apakah (Yesus) benar-benar berbicara sendirian dengan seorang wanita dan tidak berbicara terbuka (dengan) kita? Apakah kita harus berpaling dan hanya mendengarkan padanya? Apakah Dia lebih memilih dia daripada kita?”

Ayat itu sekaligus menguatkan posisi istimewa Maria Magdalena sebagaimana yang terdapat dalam Injil Philip: ‘Tuhan mencintainya (Maria Magdalena) lebih dari semua murid-murid yang lain…’

Tiga Injil, yang ketiganya diragukan kebenarannya oleh gereja, berkata tentang dua masalah yang menjadi kunci yang saling terkait dan saling mendukung kebenarannya, melawan 4 Injil Perjanjian Baru, yang seolah-olah tidak mengakui peran penting Maria Magdalena dalam kehidupan Kristus, dan bahkan ada penafsiran yang justru memojokkan sosok wanita ini sebagai pendosa. Apakah Rasul Philip, Petrus, Tomas, dan Maria yang melakukan konspirasi, atau justru penulis-penulis Injil pada masa kekuasaan yang justru berkonspirasi mengerdilkan peran Maria Magdalena? Pikirkanlah…



[1] Profesor Bovon dari Sekolah Tinggi Teologi Harvard, tahun 2006 menyebutkan bahwa Mariamne atau Maria Magdalena adalah saudara perempuan Philip. Bovon juga mengatakan peran Mariamne sebagai Rasul, sama dengan Philip dan Bartholomeus.

[2] Ada bagian yang berlubang di teks aslinya, tapi banyak sarjana meyakini bahwa isi aslinya adalah: ‘pada mulut/bibirnya’

[3] Teks hanya menyebut nama Maria, tapi para sejarawan mengaitkan relevansi isinya dengan naskah-naskah lain yang ditemukan, dan menyimpulkan bahwa Maria yang dimaksud adalah Maria Magdalena

Tubuh atau Jiwanya yang Naik?

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kisah Para Rasul 1:6-11).

Cukup aneh mengetahui mengapa tidak ada kisah mengenai kenaikan Isa Al Masih dalam Injil Matius. Padahal kisah kenaikan ini adalah episode yang sangat penting dalam tradisi Kristen, sebab peristiwa tersebut menandakan kembalinya ‘Sang Anak’ kepada Bapanya di surga. Injil Markus dan Lukas menyebutkan bahwa Yesus telah naik ke langit dan diletakkan di sebelah kanan Bapa. Keyakinan inilah yang menjadi kepercayaan milyaran umat Kristen sedunia. Paus, uskup, pendeta mengajarkan yang demikian pula kepada umatnya.

Satu pertanyaan tersisa, apakah itu berarti Yesus mati dua kali? Pertama di tiang salib, dan ‘kematian’ kedua adalah 40 hari setelah kebangkitannya dari kubur batu. Pemahaman yang ditanamkan kepada umat, ruh ilahiah Yesus lah yang naik ke langit, sedangkan tubuhnya mengurai bersama cahaya. Ada juga yang menafsirkan bahwa, raga kasarnya juga ikut naik ke langit. Perjanjian Baru dan otoritas gereja mengajarkan bahwa tidak ada jasad kasar Yesus yang dikuburkan setelah kenaikannya itu. Dari sini, kericuhan arkeologi pun bermula.

Penemuan Kain Kafan Turin

Selembar kain kafan lusuh berukuran lebar 110 cm dan panjang 436 cm, diyakini sebagai kain kafan yang menyelimuti jasad Yesus. Banyak penelitian telah dilakukan untuk membuktikan keaslian kain tersebut. Sejak tahun 1969, Profesor Max Frie melakukan serangkaian pengujian terhadap material serbuk-serbuk yang tertinggal di kain itu, yang hasilnya menguatkan dugaan keaslian kafan. Uniknya terdapat gambar seorang pria berjanggut pada permukaan kain, yang diyakini sebagai Yesus sendiri, lengkap dengan tulisan yang memberikan identitas pemilik kain tersebut.

Percobaan lain dilakukan oleh Kurt Berna dari Lembaga Penelitian Jerman, dan dalam sebuah suratnya kepada Paus John ia menyampaikan:

Paduka yang mulia, dua tahun yang lalu, Lembaga Penelitian Kain Kafan Suci Jerman telah mempersembahkan hasil-hasil penelaahan Kain Kafan yang disimpan di Turin kepada Paduka dan masyarakat luas. Selama dua puluh empat bulan yang lalu itu, para ahli yang berbeda dari berbagai Universitas di Jerman telah berusaha untuk tidak membenarkan penemuan-penemuan yang luar biasa itu, tetapi mereka gagal. Walaupun begitu, mereka berdalih bahwa ilmu pengetahuan mereka memungkinkan mereka dengan mudah untuk tidak membenarkan kesimpulan-kesimpulan kami, namun akhirnya mereka mengakui kalah dan sekarang mereka mengakui kembali dan bahkan menyetujui sahnya penelaahan ini; dan memang hal ini penting sekali bagi kedua agama, yakni Yahudi dan Kristen. Kiranya sangat berlebihan dan tidak pada tempatnya di sini untuk menyebutkan berapa banyak komentar-komentar yang timbul di berbagai media massa internasional.

Karena tak seorang pun dapat mengingkari dengan yakin akan hasil-hasil penelitian tersebut, maka Lembaga yakin bahwa penemuan-penemuan tersebut akan menimbulkan tantangan terbuka bagi seluruh dunia. Telah terbukti dengan meyakinkan, bahwa Yesus Kristus telah dibaringkan di Kain Kafan itu, setelah penyaliban dan pencabutan mahkota duri.

Penelaahan-penelaahan telah menetapkan dengan begitu pasti bahwa tubuh orang yang disalib itu telah diselimuti dengan kain itu dan dibiarkan beberapa saat lamanya. Dari sudut pandang ilmu kedokteran, telah terbukti bahwa tubuh yang dibaringkan di Kain Kafan itu tidak mati karena jantungnya masih tetap berdenyut. Bekas-bekas darah mengalir, keadaan ini dan secara alami, memberikan bukti ilmiah bahwa apa yang dinamakan hukuman mati itu benar-benar tidak sempurna. Penemuan ini menggambarkan, bahwa apa yang diajarkan Kristen masa kini maupun yang dahulu tidaklah benar.

Paduka, ini adalah kesaksian ilmu pengetahuan. Tak dapat diingkari, bahwa penelaahan Kain Kafan Suci sekarang ini sangat penting sekali artinya, karena melibatkan ilmu pengetahuan (science) dan bukti sejarah. Foto-foto Kain Kafan Suci yang telah dipersiapkan pada tahun 1931 dengan izin Paus Pius XI yang tegas, menambah lengkapnya perbendaharaan untuk membuktikan benar tidaknya hasil-hasil penelaahan saat ini. Untuk membuktikan bila hal itu tidak benar, maka di sini penting sekali mengemukakan pengujian-pengujian berikut ini:

a. Menggunakan percobaan kimia modern (yang dianalisa oleh miscroscope dan dengan penelaahan-penelaahan semacam itu) pada bekas bekas darah yang menetes yang terdapat di Kain Kafan Suci tersebut yang dihasilkan oleh hentakan-hentakan jantung yang masih tetap berdenyut.

b. Pengujian menggunakan sinar “X” dan sinar infra merah serta sinar ultra-violet maupun dengan menggunakan metode-metode modern lainnya.

c. Didata dengan peralatan jam atom dan metode karbon 14.

Untuk menganalisa kain kafan dengan tepat, hanya diperlukan 300 gram. Ini tak akan merusak Kain Kafan Suci, ia hanya memerlukan carikan 2 cm saja lebarnya dari sisi kain itu, yang panjang kain itu 4,36 meter. Dengan cara ini, bagian-bagian penting dari kain itu tidak akan rusak seluruhnya. Tak ada seorang Kristen pun di dunia ini, kecuali Paduka tentunya sebagai seorang Paus Gereja, yang dapat mengurus barang pusaka suci itu.

Hasil-hasil penelaahan Lembaga dan perwakilan-perwakilan lain yang hanya dapat menolak, apabila pengujian-pengujian ilmu pengetahuan diselenggarakan. Saya tidak mengerti, mengapa Gereja tidak mau memberi izin terhadap penelaahan-penelaah Kain Kafan Suci itu. Saya tidak percaya bahwa hal itu akan menyebabkan Gereja merasa takut: Mengapa harus begitu? Lembaga pun tidak perlu merasa takut, sebab hal itu mengemukakan penelaahan-penelaahan yang tulus dan suci, ia menggunakan metode-metode yang berlaku. Dengan keyakinan penuh, kami dapat menyatakan bahwa tak seorang pun bahkan di dunia ini yang tidak dapat membenarkan penemuan-penemuan itu, yang menimbulkan tantangan terbuka pada Lembaga.

Sebagaimana telah digambarkan, hanya dengan menunjukkan benar atau tidaknya fakta-fakta dan analisa-analisa ilmu pengetahuan saja yang dapat melengkapi hasil-hasil yang diharapkan.

Mengingat penelaahan yang luar biasa ini, kami dengan rendah hati memohon kepada Paduka untuk memberikan perhatiannya, dengan demikian Gereja dapat membawa perkara itu kepada suatu kesimpulan. Sejumlah para pengikut Gereja dan masyarakat lain mereka siap untuk menjawab panggilan apabila Gereja berkenan.

Atas nama Lembaga Penelitian Kain Kafan Suci Jerman dan rekan-rekan yang berkepentingan dalam penelitian ini, kami, sebagai penganut Katolik Roma, dengan ini memohon kepada Paduka untuk memberikan izin hal tersebut karena pentingnya bukti-bukti yang mungkin bisa diperoleh.

Salam takzim pada Paduka.

Kurt Berna,

Penulis dan Sekretaris Katolik

Urusan Lembaga Penelitian Jerman

Apa makna yang tersirat dalam episode Kain Kafan Turin ini? Bahwa apa yang diyakini Paulus, sang Bapak agama Kristen, yang kemudian menjadi doktrin gereja, adalah bertentangan dengan pembuktian ilmiah. Rasul Paulus dan geraja telah mendoktrinkan bahwa Yesus mati di tiang salib. Titik!

Hasil penelitian para sarjana membuat kepausan menjadi serba salah, sebab pengakuan absolut terhadap bukti-bukti ilmiah bisa jadi akan mengacaukan keimanan umat yang terlanjur menyakini doktrin rasul Paulus, si pencetus kekristenan. Namun Paus John XII mengambil jalan ‘aman’ dengan mengeluarkan maklumat yang dicetak di Koran Vatikan ‘L’Osservatore Romano’, tanggal 2 Juli 1960: “Keselamatan Sempurna Tubuh Yesus Kristus”. Dalam hal ini Paus menyatakan kepada para Uskup Katolik yang mengakui dan menyebarkan berita-berita ini, bahwa keselamatan sempurna umat manusia adalah akibat langsung dari darah Yesus Kristus, dan kematiannya akhirnya tidaklah dianggap penting.

Kesimpulan tersebut bukannya tanpa perlawanan. Para ahli penanggalan karbon dari Universitas Oxford, Zurich dan Arizona, membuktikan bahwa kain kafan itu adalah hasil pemalsuan pada abad ke empat belas, jauh setelah wafatnya Kristus. Vatikan sendiri pun seolah enggan berdiskusi panjang dan berdebat mengenai asli tidaknya kain ini. Keengganan tersebut tentu saja meninggalkan pertanyaan, ada apa? Apakah ini sebentuk konspirasi untuk menutupi kebenaran, atau ada pihak-pihak tertentu yang khawatir jika kebenaran terungkap? Keimanan milyaran umat menjadi taruhannya. Apakah tubuh Yesus benar mengurai bersama cahaya atau ia tak ubahnya manusia lain yang mengurai jasadnya dimakan waktu?

Penemuan Osuarium Yesus Putra Yosef

Fakta-fakta arkeologi modern seolah tak henti-hentinya menggugat kebenaran kisah-kisah dalam Perjanjian Baru. Keingintahuan yang maha dahsyat dicurahkan untuk membuktikan benar tidaknya tradisi kekristenan yang ‘terlanjur’ diyakini oleh hampir separuh populasi bumi. Bagaimana tepatnya Yesus naik ke surga. Apakah raga manusiawinya juga ikut bersama ruh suci ke tempat Bapa?

Sebuah makam dibawah tanah hampir saja dihancurkan alat berat ketika Israel hendak membangun kawasan perumahan di wilayah Yerusalem pada tahun 1980. Otoritas berwenang segera memanggil ahli-ahli dari Israeli Antiques Authority untuk memeriksa makam kuno tersebut. Amos Kloner, Yosef Gath, Eliot Braun, dan Shimon Gibson kemudian menggali makam tersebut. Ada 10 peti batu kapur, yang lazim disebut sebagai osuarium, yang digunakan sebagai wadah bagi jenazah orang-orang yahudi pada masa itu. Dari kesepuluh kotak batu tersebut, ada beberapa kotak kotak yang memiliki identitas jelas terpahat di permukaan batu: Yesus putra Yosef, Maria, Matius, dan Yudah putra Yesus. Meskipun sempat mencuat kecurigaan pada nama Yesus dan Maria, namun para ahli tersebut mengacuhkan gejolak dalam hati mereka, dan mengasumsikan bahwa nama-nama tersebut hanya kebetulan, dan mereka menganggap nama Yesus dan Maria adalah nama yang umum bagi orang Yahudi kuno.

Misteri itu terdiam di rak Israeli Antiques hingga 25 tahun kemudian seorang wartawan Simcha Jacobovici menemukan kelompok nama yang mengundang tanya tersebut. Rasa penasaran membawanya menelusuri makam asli dimana osuarium-osuarium tersebut ditemukan. Makam tersebut terkenal dengan nama Makam Talpiot. Tidak puas hanya menduga-duga, maka para peneliti yang haus kebenaran tersebut pun melakukan tes DNA terhadap material tersisa pada peti bertuliskan Yesus putra Yosef dan Maria. Juga dilakukan penelitian lapisan patina untuk mengetahui umur osuarium. Hasil penelitian pada tahun 2005 oleh Carney Mattheson di laboratorium Paleo DNA Universitas Lakehead Ontario, menyimpulkan bahwa mitokondria dua residu DNA milik Yesus putra Yosef dan Maria tidak memiliki hubungan darah. Dari sini disimpulkan bahwa antara Yesus dan Maria merupakan suami istri, sebab kelaziman Yahudi ketika itu adalah melakukan penguburan keluarga yang sedarah dalam satu liang, atau bersama istri. Hipotesis mendalam pun dibuat dengan melakukan perhitungan probabilitas terhadap nama-nama di dalam makam. James Tabor, Simcha dan Charles Pelegrino, semakin meyakini bahwa jenazah Yesus pernah berada di osuarium Talpiot. Jika ini benar, sekali lagi akan membuktikan bahwa telah terjadi kekeliruan pada Perjanjian Baru.

Sulit untuk membuktikan siapakah pihak-pihak yang melakukan konspirasi, apakah para sarjana atau justru pihak gereja? Atau bisa jadi itu bukan merupakan konspirasi, tapi lebih sebagai idealisme yang harus dipertahankan oleh masing-masing pihak. Masing-masing tentu memiliki motif tertentu. Vatikan dengan tegas menolak meyakini bahwa makam Talpiot adalah makam Yesus. Terlebih dalam tradisi Perjanjian Baru, Maria Magdalena ‘bukan siapa-siapa’ Yesus, apalagi sebagai istri yang memberi Yesus seorang anak bernama Yudah. Imej Maria Magdalena dalam Perjanjian Baru, adalah wanita pendosa, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Paus Gregory I pada ayat Lukas.

Namun tidak semua petinggi gereja berseberangan dengan hal tersebut. Pada tanggal 5 April 2007, Pendeta Ioanes Rakhmat, seorang dosen kajian Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, seolah-olah membenarkan penemuan makam Yesus tersebut. Ia menuliskan dalam surat kabar Kompas, bahwa kenaikan Yesus hanya bersifat metafora. Kutipan lengkapnya adalah sebagai berikut:

"Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi. Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subyektif, bukan dalam realitas obyektif. Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: ia telah diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi. Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi, yang dibutuhkan adalah "tubuh rohani", bukan tubuh jasmani protoplasmik.

Berdasarkan temuan itu, Rakhmat memberikan hipotesa bahwa kebangkitan Yesus adalah metafora, bukan kebangkitan daging sebagaimana dipercayai umat Kristen selama ini.

Misteri Penyaliban Kristus

Kisah-kisah tentang Yesus selalu mengundang begitu banyak kontroversi antara keimanan absolut (tidak mempertanyakan kebenaran sama sekali) dengan pembuktian ilmiah dari para sarjana. Tradisi kekristenan menjadi sebuah bidang sejarah yang selalu menarik untuk dibuktikan kebenaran-kebenarannya. Hal ini dikarenakan banyak sarjana menganggap kisah-kisah dalam Perjanjian Baru terasa begitu tidak masuk akal dan bertentangan antara satu naskah dengan naskah lainnya. Salah satu kontroversi yang berkembang adalah, bagaimana sesungguhnya Yesus disalibkan.

“Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku” (Mazmur 22:17)

Firman dalam Injil tersebut ingin mengatakan bahwa Yesus mengalami penderitaan untuk menebus dosa-dosa manusia, dan merelakan tangan dan kakinya dipaku oleh tentara Pontius Pilatus (Gubernur Romawi ketika itu). Cerita tersebut dikuatkan dengan ditemukannya kayu salib tempat Kristus disiksa. Dikisahkan bahwa St. Helena, ibunda Kaisar Konstantin, melakukan perjalanan ke Yerusalem, dan menemukan relik kayu salib milik Kristus pada tahun 326 Masehi. Dalam penggalian ditemukan 3 buah kayu salib, namun St. Helena bingung untuk menentukan mana yang milik Kristus dan mana dua salib yang merupakan milik dua penjahat yang disalib bersama Yesus. Konon akhirnya ketiga salib tersebut dibaringkan disebelah seorang wanita yang sakit parah. Dua salib pertama tidak membawa akibat apa-apa pada wanita itu, dan pada salib yang bertuliskan INRI, mendadak wanita sakit itu sembuh seketika. Keyakinan bahwa Yesus memang dipaku di kayu salib, berdasarkan kisah tersebut, berawal karena ditemukannya beberapa bekas paku bersama penemuan kayu-kayu salib tersebut. Dokumen tertulis mengenai penemuan salib oleh St. Helena ini termaktub di dalam ‘Catecheses’ (P.G. XXXIII, 468, 686, 776), yang ditulis pada tahun 348 atau sekitar 20 tahun setelah salib ditemukan di Yerusalem.

Kita melihat (dan meyakini) bahwa Yesus dipaku pada telapak tangannya. Setidaknya, citra seperti inilah yang ditampilkan dalam film-film yang menceritakan kehidupan Yesus. Demikian juga pada salib-salib Kristus, selalu divisualisasikan bahwa paku itu ditancapkan persis di tengah-tengah telapak tangan Yesus, dan menembus kayu salib. Gereja menguatkan hal ini sebagai kebenaran kisah Kristus. Keyakinan ini bertahan selama ribuan tahun, hingga akhirnya…

“Paku-paku yang ditancapkan ke kedua tangannya sebenarnya menembus pergelangan tangannya, karena jika dipaku pada tangan tidak akan dapat menyangga tubuhnya” (Teori Dr. Pierre Barbet, dalam Bible Review edisi April 1989). Gagasan Barbet ini muncul dari hasil percobaannya melakukan penyaliban mayat, dengan mereplika kisah pemakuan telapak tangan Yesus. Dari beberapa kali percobaan, telapak tangan selalu robek karena tidak sanggup menahan bobot tubuh. Ia pun mempertanyakan kebenaran pemakuan pada telapak tangan Yesus, apalagi dikatakan dalam Injil Lukas 23:44 dan Matius 27:45-46, bahwa Yesus harus menahan bobot tubuhnya di tiang salib selama 3 jam. Percobaannya telah menyimpulkan secara ilmiah bahwa tubuh akan melorot dari salib, karena daging dan otot yang robek di telapak tangan yang dipaku, tidak akan kuat menahan berat tubuh.

Hasil percobaan ini mendukung penemuan jenazah orang Yahudi yang mati disalib pada era yang sama dengan kehidupan Yesus. Jenazah Yahudi itu ditemukan tahun 1968, bernama Yehokanan. Ditemukan lubang atau friksi bekas paku pada bagian pergelangan tangan, tepatnya di bagian radius dan ulna. Metode ini lazim dipergunakan tentara Romawi untuk menghukum penjahat, dengan cara yang sangat hina dan menyakitkan, karena dengan cara tersebut kematian akan datang dengan lambat, serta penuh penderitaan. Para sarjana percaya bahwa Yesus juga mengalami metode yang sama, yaitu dipaku pada bagian pergelangan tangan, bukan di telapak.

Sumber: www.oocities.com

Entah apa maksud Barbet melakukan percobaan ini. Apakah ia hanya ingin membuktikan secara ilmiah mengenai kebenaran metode penyaliban? Atau ia hanya ingin membuktikan kekeliruan yang selama ini ‘dipaksakan’ oleh otoritas gereja? Tentu saja serangan tersebut segera dibantah keras, dan kemudian banyak dilakukan percobaan-percobaan lain untuk mematahkan argumentasi Barbet tersebut. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Dr. Frederick Zugibe, dimana ia melakukan percobaan dengan menggunakan mayat, dan menyimpulkan bahwa jika dilakukan pada tempat yang tepat, yang ia sebut sebagai ‘Z Area’ dan Destot Space, pemakuan di telapak tangan dapat menahan bobot tubuh.

Tentu kita bertanya, mengapa begitu banyak keraguan terhadap ‘kebenaran’ yang dikabarkan? Apakah para sarjana ingin membuktikan bahwa ada konspirasi dari pihak-pihak tertentu yang ingin mempertahankan status quo kekeliruan yang terlanjur diyakini oleh milyaran umat nasrani? Atau justru para sarjana dan pencari kebenaran hakiki itulah yang sedang berbuat culas kepada Kristen untuk menjatuhkan kredibilitas dan menggoyahkan keimanan umat terbesar di dunia ini? Kita tidak akan pernah tahu. Barangkali saat kedatangannya nanti di akhir zaman, Al Masih harus memberikan klarifikasi kepada umat yang tersisa, dengan terang benderang, mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya…

Judas: Penghianat Atau Pembebas Kristus?

1. Judas: Penghianat Atau Pembebas Bagi Yesus?

Ribuan tahun sudah Judas Iskariot dianggap sebagai musuh nomor wahid Yesus Sang Penebus. Ia dianggap berhianat dengan menjual Yesus kepada Rabbi Yahudi yang berkonspirasi dengan Romawi, dengan imbalan beberapa keping emas, yang diistilahkan sebagai ‘uang darah’. Penghianatan ini berujung kepada penyaliban Kristus di Bukit Zaitun, dan dari sanalah kemudian lahir konsep Penebusan dalam tradisi Kristen hingga saat ini.

Dalam Injil Lukas, diceritakan bahwa iblis merasuki Judas, yang memang menjadikan Yesus sebagai musuh abadi. Bahkan dalam Injil Yohannes, Yesus sendiri mengatakan bahwa (dengan bahasa yang tersurat), Judas adalah iblis itu sendiri. Dalam tradisi Kristiani, penghianatan Judas dilakukan dalam babak yang disebut sebagai ‘the kiss of Judas’, yang menempatkan salah satu murid Yesus itu sebagai pendosa untuk selama-lamanya. Injil Matius, mengisahkan akhir penyesalan Judas dengan keputusannya menggantung dirinya sendiri. Terjadi sedikit perbedaan kisah, dimana dalam Kisah Para Rasul, Judas diceritakan tewas menggenaskan dengan usus terburai dari perutnya yang robek.

Judas, merupakan murid yang berada dalam lingkaran inti Yesus selama pengembaraannya. Bahkan dalam Injil Yohannes, Judas diketahui merupakan bendahara bagi kelompok kecil tersebut. Dalam Jamuan Terakhir (The Last Supper), Yesus sendiri yang meminta agar Judas melakukan apa yang harus dilakukannya, tanpa menyebutkan secara jelas apa maksud dari perkataan tersebut. Muncul beberapa penafsiran yang membingungkan. Sebagian pembela Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus telah mengetahui ia akan dikhianati oleh muridnya sendiri, dan perkataan itu ditujukan kepada Judas. Namun ada penafsiran dari perspektif yang berbeda, dimana perkataan Yesus tadi dimaknai sebagai ‘perintah’ kepada Judas untuk melakukan ‘pengkhianatan’ bersejarah tersebut.

Penemuan Injil Judas (The Gospel of Judas) di Mesir, pada tahun 1970, yang kemudian direstorasi oleh para sarjana pada tahun 2001, semakin membenarkan penafsiran kontroversial tersebut. Dalam Injil Judas, dikisahkan bahwa Yesus sendiri yang meminta agar Judas membebaskan jiwanya dari kungkungan raga, untuk melepaskan keilahian Yesus. Hal ini dilakukan Yesus sebab, Judaslah murid yang mengetahui siapa sesungguhnya sosok Yesus.

“Saya tahu siapa engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian…”

Kalimat diatas adalah penggalan ucapan Judas dalam Injilnya. Dan sama dengan kisah pada Injil baru, Judas memang pada akhirnya mengkhianati Yesus, namun ia melakukannya dengan penuh kesadaran, tanpa dirasuki iblis apapun seperti yang dituduhkan Perjanjian Baru padanya. Ia melakukannya karena ia hendak membebaskan sosok ‘ilahiah’ dalam diri Yesus, sehingga kisah-kisah penebusan dosa umat manusia dapat dimulai. Dan bukankah, tanpa adanya penyaliban, tidak akan ada sejarah kekristenan seperti saat ini?

“Adalah lebih baik bagi orang itu (Judas) sekiranya dia tidak dilahirkan” (Markus, 14:21)

Jika perkataan dalam Injil Markus ini menjadi kenyataan, apakah akan ada kekristenan seperti yang kita kenal sekarang? Jadi, bagaimana seharusnya kita memandang posisi Judas Iskariot, Pengkhianat atau Pembebas Yesus? Mungkinkah ‘serangan’ terhadap sosok Judas dalam 4 Injil Baru sebagai bentuk rasa sakit hati murid-murid Yesus karena Judas adalah kesayangan Sang Penebus? Satu-satunya murid yang diajarkan mengenai rahasia pengetahuan? Bukankah mereka adalah manusia yang juga memiliki rasa amarah, benci dan dendam? Kebencian yang tampak jelas pada penamaan-penamaan yang buruk dan mencela kepada Judas dalam Injil-Injil baru…

Perdebatan kemudian muncul di masyarakat. Pembela Perjanjian Baru, termasuk otoritas gereja mati-matian menolak Injil Judas sebagai ‘kabar baik’ yang sejati. Bahkan ada yang secara ekstrim mengatakan Injil Judas adalah palsu dan tidak mewakili cerita sebenarnya dari sejarah Kristus. Aliran yang lebih moderat mengambil jalan tengah, dengan menyebutkan bahwa Injil Judas merupakan bagian dari serangkaian injil-injil gnostik (berkaitan dengan rahasia ilmu pengetahuan, mistis, atau sebagian menganggapnya sebagai sihir dan bid’ah). Dan oleh karenanya, Injil Judas tidak dikategorikan sebagai ‘kabar baik’ bagi umat kristiani.

Pertanyaannya kemudian, mengapa sulit bagi otoritas gereja menerima fakta bahwa injil-injil gnostik merupakan bagian dari sejarah kekristenan? Kita ingat betul, bahwa perburuan aliran gnostik yang dianggap bid’ah, telah dimulai sejak lama oleh Irenaeus, seorang penulis injil pada era Gereja Lama (Gereja Purba) sekitar tahun 180-an Masehi. Aliran-aliran gnostik dianggap sesat karena mengajarkan rahasia-rahasia gaib dan ilmu pengetahuan tinggi yang ketika itu dianggap sebagai sihir. Namun yang paling kontroversial adalah, ada paham gnostik yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang dirasuki oleh roh illahiah untuk memperingatkan manusia. Dan inilah yang menjadi intisari dari Injil Yudas, dimana ia sendiri bertindak sebagai ‘pembebas’ roh ilahi pada tubuh manusia Yesus. Aliran ini menentang keyakinan tradisi trinitas Kristiani yang mengatakan bahwa Yesus adalah anak sekaligus Tuhan itu sendiri. Sehingga para sarjana dan pemikir kritis memaklumi bagaimana sengitnya pembela Perjanjian Baru menyikapi penemuan tersebut.

“Adalah suatu keajaiban jika Judas yang menulis sendiri Injil tersebut, karena dia telah meninggal seratus tahun sebelum dokumen itu ditulis!” Demikian pembelaan dari James Catford, Ketua Perkumpulan Bible Society.

Tapi siapa yang bisa memastikan tahun persisnya dokumen itu ditulis? Metode ilmiah untuk menentukan usia sebuah dokumen tidak menjamin kepastian tahun pembuatan, mereka hanya mampu mengira-ngira tahun terdekat yang paling masuk akal. Dan bukankah naskah-naskah asli Injil Perjanjian Baru juga telah hilang? Lagipula jika dicermati lebih seksama, Injil Yudas berakhir pada cerita Ia menyerahkan Yesus kepada musuh, bukan pada saat kematiannya. Jadi sangat mungkin ia telah menulis Injil tersebut sebelum kematiannya.