Senin, 31 Januari 2011

Perseteruan Ilmu Pengetahuan dan Keimanan

Doktrin gereja dalam Perjanjian Baru dengan tegas menyatakan bahwa bumi adalah pusat alam raya, yang artinya bukan bumi yang berputar mengelilingi matahari, tetapi mataharilah yang mengorbit pada bumi. Gereja ketika itu berpegang teguh pada konsep Aristotelian, yang menganut teori geosentris (bumi sebagai pusat tata surya). Demikian pula dalam Injil:

Lalu Yosua berbicara dihadapan bangsa Israel: "Matahari berhentilah engkau di atas gibeon dan engkau bulan diatas lembah Ayalon!" Maka berhentilah Matahari dan Bulan pun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. bukankah hal itu tertulis dalam Kitab Orang Jujur?
(Yosua 10:12-13).

Ayat dalam Perjanjian Baru tersebut dimaknai sebagai pengakuan Kristen lama terhadap paham geosentris, meskipun kemudian setelah terbukti doktrin itu salah, akhirnya gereja mencari argumentasi untuk mengelak dari kesalahan tersebut, dengan mengatakan bahwa ayat tersebut tidak dimaknai secara harfiah, tetapi justru dimaknai sama dengan terbit dan terbenamnya matahari, yang seolah-olah matahari lah yang bergerak. Tapi yang pasti, sebelum Galileo berhasil membuktikan ‘kekeliruan’ gereja lama tersebut, tidak ada seorangpun pada masa itu yang berani melawan doktrin geosentris dari gereja tersebut.

Tetapi naluri keilmuan Galileo memberontak, dan ia lebih sepakat dengan teori heliosentris milik Coppernicus, yang mengatakan bahwa mataharilah pusat tata surya yang diedari oleh bumi dan planet-planet disekelilingnya. Ia belum dapat membuktikan hal itu hingga akhirnya ia menemukan teleskop, dimana sejak saat itu ia pun mengarahkan matanya menatap langit. Dan memang pada akhirnya, dengan bantuan teleskop itu, Galileo berhasil menjungkir balikkan keyakinan ‘sesat’ gereja lama mengenai pusat tata surya. Puncaknya, Galileo dianggap bid’ah, pelaku sihir dan pemberontak bagi gereja. Ia dipanggil, dipaksa untuk mencabut kebenaran ilmiah dari mulutnya. Ilmuwan besar itu, terpaksa mengabulkannya. Dan bahkan pada pengadilan kedua ia dipaksa untuk mengakui bahwa meyakini matahari bersifat tetap adalah absurd secara filosofis, dan secara formal bersifat berhala[1].

Para sarjana Eropa pada masa pencerahan (reinassance) banyak mengkritik ‘kesesatan’ ilmu yang terdapat pada penafsiran Injil. Banyak juga yang kemudian membandingkan bagaimana setelah seribu enam ratus tahun masa kekristenan, masih saja kitab-kitab suci mengabarkan fakta-fakta yang salah dan saling bertentangan. Kontradiksi keilmuan dalam Bible serta pemaksaan keyakinan ilmiah oleh gereja ketika itu memicu pemberontakan intelektual. Gereja dianggap memenjarakan ilmu pengetahuan untuk mencari kebenaran alam. Sebaliknya gereja menganggap ‘petunjuk’petunjuk’ lain diluar Injil adalah bid’ah, sesat, dan bersifat berhala. Lalu terjadilah perseteruan diantara kedua aliran: akal vs keimanan.

Pertentangan tersebut semakin meruncing dengan berdirinya Illuminati pada tahun 1776, oleh Dr. Adam Weishaupt, seorang mantan pendeta Jesuit yang membelot, sebab merasa gereja telah mengekang perkembangan akal manusia. Illuminati didefinisikan sebagai pencerahan, yang merupakan organisasi persaudaraan rahasia, yang diyakini tetap hidup hingga saat ini. Galileo diduga merupakan anggota Illuminati periode pertama. Oleh gereja, Illuminati bersama Freemasonry, dianggap sebagai penyembah berhala, yang mereka sebut sebagai Luciferian[2] , penyembah the Great Architect, Lucifer.

Namun ada teori lain yang berkembang dari para penganut teori konspirasi yang mengatakan bahwa, alasan gereja memusuhi gerakan Illuminati ini dilatarbelakangi oleh motif kekuasaan. Katolik Roma merupakan gereja warisan Paulus (pencetus Kristen), sedangkan Illuminati dianggap sebagai penganut paham gnostik, yang meyakini bahwa Maria Magdalena lah pewaris Kristen sejati, sehingga ia disebut sebagai Illuminatrix (Yang Tercerahkan). Pada bab-bab sebelumnya telah kita bahas mengenai pemikiran kritis soal bagaimana peran Maria Magdalena ini dikecilkan oleh gereja ketika itu. Jadi jika benar motif ini, maka telah terjadi perang konspirasi di antara kedua aliran, yang membenturkan antara ilmu pengetahuan (yang dianggap gnostik oleh gereja) dengan keimanan Katolik.

Pengikut Illuminati diburu oleh gereja dengan dibantu kerajaan yang tunduk pada kekuasaan gereja. Mereka yang dituduh sebagai Luciferian Conspiracy dikejar bak hewan buruan, ditangkap, dicap salib pada dada mereka dengan besi panas, dan kemudian dibunuh dihadapan orang banyak untuk menunjukkan kesesatan aliran tersebut. Hal ini digambarkan dalam novel laris Angel & Demon, tulisan Dan Brown.

Illuminati membalas dengan beberapa pemberontakan kecil, namun kalah oleh gabungan kekuatan gereja dan kerajaan. Akhirnya mereka berkonspirasi untuk menjatuhkan gereja Katolik Roma, musuh Lucifer, dengan jalan berkonspirasi secara rahasia. Diyakini bahwa banyak tokoh-tokoh besar dunia merupakan anggota rahasia Illuminati yang memberikan pengaruh dan arah terhadap berbagai peristiwa besar di dunia. Tokoh-tokoh besar tersebut di antaranya, George Washington, Issac Newton, , George Bush hingga ke Madonna.

Illuminati pun dipercaya memasuki dunia ilmu pengetahuan dan media massa, untuk menyebarkan propaganda bahwa manusia berkuasa atas dirinya sendiri, dan tidak ada campur tangan Tuhan pada hidup manusia. Jika kita memikirkan secara mendalam, bagaimana produk-produk media Barat, terutama film-film Hollywood, yang menisbikan peran Yesus, mengolok-olok Tuhan, adegan-adegan ‘memanusiakan’ Tuhan dalam plot-plot yang konyol, rasanya konspirasi ini bukanlah isapan jempol semata...



[1] Pada tanggal 31 Oktober 1992, Paus Yohanes Paulus II di depan publik menyatakan penyesalannya atas tindakan umat Katolik yang memperlakukan Galileo secara buruk dalam pengadilan tersebut.

[2] Orang yang dicerahkan, atau bisa juga menyembah Lucifer (raja Iblis versi Kristen)

Konspirasi Membakar Perang Salib Pertama

Perjanjian Aelia (sebutan untuk Yerusalem) antara Pasukan Muslim dengan Pemimpin Kristen Yerusalem:

“Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia: Dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka, baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkannya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi.”

Dengan perjanjian fenomenal tersebut, berjalanlah Khalifah Umar bin Khatthab ditemani pelayannya, tanpa pengawal menuju gerbang Yerusalem. Disana telah menunggu Partiarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius dan rombongan yang berpakaian menyilaukan, sementara Umar hanya berpakaian sangat sederhana. Ketika Umar menyatakan hendak shalat, Uskup menawarkan untuk melakukannya di dalam Gereja Makam Suci Yesus (Holy Sepulchure), namun dengan sopan Umar menolaknya, karena ia khawatir perbuatannya itu akan memancing umat Muslim untuk mengganti fungsi gereja suci bagi umat Kristen tersebut menjadi mesjid.

Lebih dari empat abad, Yerusalem dibawah kepemimpin Muslim dalam damai. Tidak ada pembinasaan bagi umat non muslim, gereja-gereja dan kuil dipelihara. Sebagaimana penyerahan Yerusalem kepada Umar, maka kepemimpinan Muslim di kota suci tiga agama samawi itupun berlangsung tanpa banyak tumpahan darah. Akan tetapi dendam masih membekas pada Gereja Katolik Romawi. Perasaan kalah itu menunggu dalam diamnya di relung kegelapan, dan pada saatnya ia akan bangkit keluar dan mengusik kedamaian itu!

Adalah Paus Urbanus II, penguasa Gereja Katolik Barat (Katolik Roma). Menurut para sarjana, pada masa itu sang Paus sangat berkeinginan untuk menyatukan Gereja Katolik Timur (Orthodox) yang berkedudukan di Byzantium, dan ada perpecahan diantara keduanya. Gereja Katolik Barat merasa terhalangi oleh kekuasaan Gereja Katolik Timur untuk melakukan perdagangan dengan ‘Dunia Timur’. Paus membutuhkan alasan untuk dapat menggerakkan pasukannya ke timur. Dan harapan itu terjawab dengan permintaan Kaisar Alexius I kepada Paus Urbanus II untuk membantunya mengirimkan 1200 orang ksatria untuk membantu Byzantium dan menahan laju invasi tentara Muslim di Eropa. Dendam dan ambisi melebur dan tersulut oleh permintaan Kaisar Alexius I. Inilah momentum yang ditunggu-tunggu oleh sang Paus.

Permintaan dan kepentingan politik dirasakan tidak akan mampu menyulut patriotisme rakyat Katolik. Paus harus memikirkan cara untuk membakar semangat ‘jihad’ ala Katolik. Tidak ada cara lain yang terlintas kecuali mengumandangkan sentimen agama! Maka pada tahun 1095 M, berkumandanglah pidato Paus Urbanus II di Clermont. Paus menghasut umat Kristen untuk mengakhiri perjanjian damai dengan Muslim. Ia berlindung di balik doktrin ‘Deus Vult’ (Ini adalah kehendak Tuhan). Fitnahpun ia serapahkan kepada umat Kristen, bahwa umat Muslim telah memberangus gereja, membunuh orang-orang Kristen dengan cara disembelih. Ia mengatakan bahwa orang-orang Muslim adalah penyembah berhala, dan oleh karena itu Kristen harus merebut kembali Yerusalem. Maka isu politik pun bergeser menjadi isu agama Kristen-Muslim oleh hasutan Paus Urbanus II.

Dibawah pimpinan Godfroy de Boulion, seorang Yahudi yang masuk Kristen, pada tahun 1097, 150.000 pasukan bergerak ke Timur. Perang suci yang dikumandangkan oleh Paus ternyata pada catatan sejarah penuh dengan darah kekejaman pasukan salib, yang didominasi oleh pasukan Perancis dan Normandia. Sepanjang jalan menuju Yerusalem, pasukan ini justru melakukan perampokan dan pembunuhan, tidak hanya kepada orang-orang Islam, tetapi juga kepada orang-orang Yahudi. Mereka bahkan membelah perut para korban untuk mencari emas dan permata yang dicurigai ditelan sebelum perang[1].

Untuk memikat hati rakyat Katolik, Paus Urbanus II bertindak seakan-akan Tuhan, dengan janji akan menganugerahkan pengampunan dosa dan mengirimkan para tentara yang bertempur dengan orang Islam dengan balasan surga. Terlepas dari janji-janji tersebut, catatan sejarah menuliskan bahwa Perang Suci tersebut tidak sepenuhnya dilandasi oleh iman kristiani, sebab mereka yang pergi bertempur justru banyak yang ingin lari dari kesulitan hidup. Oleh karena itu menjadi wajar ketika perang yang seharusnya dijadikan pembebasan, justru berbalik menjadi kekejaman. Kemurnian ajaran Kristus diselewengkan dan dijadikan alat untuk propaganda. Seorang pemimpin pasukan bernama Emich von Leiningen, memaksa para Yahudi yang ditemui di sepanjang perjalanan untuk masuk ke agama Kristen, dan apabila menolak maka Yahudi tersebut akan dibantai. Ada kebencian berkarat dalam hatinya: “Merekalah umat yang bertanggung jawab atas kematian dan penyaliban Yesus. Karena itu mereka layak untuk mati kecuali mereka bertaubat kepada Kristen[2]”.


Versi Kristen mengatakan justru, umat Muslimlah penyebab meletusnya perang salib, sebab Bani Seljuk Turki mempersulit umat Kristen untuk berziarah ke Baitul Maqdis. Dan itu menjadi alasan bagi Paus untuk mengirimkan pasukannya demi menjaga keamanan penziarah Kristen. Selain itu juga disebutkan versi lain mengenai kondisi permusuhan Kristen Roma dan Kristen Ortodox. Paus Urbanus II justru bermaksud untuk mendamaikan dan menyatukan kedua aliran Kristen tersebut. Namun sayangnya, meski Perang Salib telah berkobar berkali-kali, namun hingga saat ini masih terbentang jarak antara Gereja Katolik Roma (Vatikan) dengan Gereja Orthodox. Invasi dan perluasan kesultanan islam juga menjadi momok yang mengkhawatirkan banyak kerajaan-kerajaan Kristen, sehingga mereka berupaya untuk menghambatnya dengan jalan mengobarkan perang suci, meskipun sebenarnya pasukan Islam, menurut catatan sejarah, justru tidak menjadikan perluasan wilayah kekuasaan atas dasar Islamisasi. Fakta ini tercatat, baik dalam versi Islam maupun versi Kristen, bahwa penguasa Muslim membebaskan kehidupan beragama bagi rakyat taklukkannya.

Tampaknya perbuatan Paus Urbanus II telah menginspirasi George Walker Bush Junior, ketika ia membakar amarah rakyat Amerika, pasca 9/11, dengan ucapan: “Perang salib ini, perang melawan terror ini, akan cukup memakan waktu…” Dan lihatlah akibat yang sama seperti yang dilakukan pasukan salib seribu tahun yang lalu. Pasukan Amerika[3] juga menyiksa orang sipil, membunuh, dan menginjak-nginjak harga diri manusia bangsa Irak dan Afganistan. Sejarah telah mengulang kembali konspirasi yang nyaris sama dengan Perang Salib I. Dan juga sama dengan perang yang dikumandangkan oleh Bush Jr., perang salib pun terjadi berkepanjangan, dengan hanya menyisakan penderitaan bagi jutaan orang.



[1] Disadur dari ‘Knights Templar of Christ’, hal. 94

[2] Dikutip dari ‘Born in Blood:The Lost Secret of Freemansory’, John J. Robinson, 1989

[3] Yang ternyata tidak murni merupakan militer Amerika, tetapi mereka adalah tentara-tentara swasta (Pembahasan lebih lanjut akan disajikan pada bab selanjutnya)

Rabu, 26 Januari 2011

Pengkerdilan Peran Maria Dalam Bible

Penemuan osuarium Yesus Putra Yosef di Talpiot pada tahun 1980, yang kemudian dijustifikasi pada tahun 2005 melalui serangkai pengujian DNA dan lapisan patina, semakin menggelembungkan tanya dalam dada banyak insan yang mendamba pengungkapan sesungguhnya sejarah Kristus. Bagaimana ia dilahirkan, perannya mengabarkan firman Bapa, penghianatan muridnya, penangkapan, kematian, kebangkitan, kenaikannya, serta tentu saja, siapa wanita istimewanya.

Publik kerap dibimbangkan dengan nama Maria. Kebanyakan umat mengetahui bahwa nama Maria adalah ibunda Yesus yang melahirkannya dengan kuasa ruh suci yang merasuk ke dalam rahimnya. Bunda Maria, itulah yang lazim terdengar dan dipahami. Hal ini dikarenakan nama Maria yang satu ini dapat dikatakan kurang mendapatkan tempat yang layak dalam kisah-kisah di Perjanjian Baru. Bahkan ada yang ekstrim menyebutkan sosok Maria Magdalena adalah sosok wanita pendosa (seksual) pada Lukas:7, meskipun ayat tersebut tidak mencantumkan namanya sama sekali. Ide ini digagas pertama kali ketika Paus Gregory I mengidentifikasi sosok Maria Magdalena sebagai wanita pendosa pada Lukas 7:37, yang juga mencuci kaki Yesus dengan rambutnya. Dalam Perjanjian Baru, sosok ini adalah wanita yang mendampingi Yesus mengembara bersama 12 muridnya. Tidak ada cerita yang menguatkan perannya sebagai sosok sangat penting bagi Kristus.

Kegegeran bermula dari ditemukannya naskah-naskah Laut Mati di Nag Hammadi, Mesir pada tahun 1945, yang salah satunya adalah Injil Philip (Filipus). Menurut para sarjana, Kisah Perbuatan Philip dulu banyak dikutip oleh para penulis Kristen, sebelum banyak teks-teks asli yang hilang. Kisah Perbuatan Philip adalah bagian yang dianggap apokrifal (tidak sah) dari versi resmi Perjanjian Baru. Beberapa isinya dianggap kontroversial, diantaranya:

1. Injil ini mengatakan bahwa Maria Magdalena adalah saudara perempuan Philip. Yesus meminta Maria untuk ‘menanggalkan kewanitaannya’ agar pergi menemani saudaranya Philip yang pemarah.

“Karena mendengar hal ini, Philip menangis. Dia berpikir keras, tugas yang berbahaya ini, dan dia memperlemah ketetapan hatinya, dimana kemudian Yesus berpaling ke saudara perempuan Philip[1], untuk menguatkan dan membimbingnya: ‘Aku tahu bahwa kamu terpilih di antara kaum wanita (bahwa saudara lelakimu disakiti); tetapi pergilah dengannya, dan doronglah ia, karena aku tahu bahwa ia seorang lelaki pemarah dan gegabah; dan jika membiarkannya pergi sendiri, dia akan merepotkan yang lainnya…….(dst). Dan hendaklah kamu-ubahlah aspek wanitamu-dan pergilah dengan Philip….’”

Dari penafsiran para sarjana, tampak bahwa peran Maria Magdalena begitu penting, jauh lebih besar dari peran wanita secara umum dijaman Yahudi kuno, masa kehidupan Yesus, yang ketika itu sangat merendahkan wanita. Peran penting ini yang terasa kurang tersentuh oleh kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Banyak sejarawan mencurigai adanya ‘kesepakatan rahasia’ yang dilakukan oleh otoritas tertentu pada masa itu untuk mengerdilkan peran Maria Magdalena dalam kehidupan Kristus.

2. Teks Injil Philip yang paling menghebohkan adalah bagian yang menerangkan hubungan ‘tersembunyi’ antara Kristus dengan Maria Magdalena.

“Tuhan mencintainya (Maria Magdalena) lebih dari semua murid-murid yang lain dan sering menciumnya di…nya[2]

Mungkin sulit untuk mengakui kebenaran perkataan di dalamnya, tapi setidaknya para pemikir konspirasi dapat mengaitkan keterkaitan isi pada Injil Philip dengan apa yang dikatakan dalam Injil Maria (Magdalena[3]), yang ditemukan sebelumnya pada tahun 1896, oleh Dr. Carl Rheinhardt, di Kairo. Injil kontroversial ini terdapat dalam Akhmim Codex, yang kemungkinan ditulis pada abad ke 4 dan ke 5 M. Teks ini tertulis dalam bahasa Koptik.

“Jangan menangis…Tapi lebih baik kita memuji kebesaran-Nya, karena Dia telah mempersiapkan kita dan membuat kita menjadi lelaki(kutipan dalam Injil Magdalena, 5:1-3).

Para sarjana menyatakan bahwa perkataan Maria ‘menjadi lelaki’ relevan dengan perintah Yesus kepada Maria untuk ‘ubahlah aspek wanitamu’. Hal ini tentu menjadi sebuah argumentasi perlawanan terhadap ‘penghilangan’ Kisah-Kisah Philip dalam Perjanjian Baru yang dilakukan oleh gereja pada masa itu. Alasannya adalah, hal ini membuktikan bagaimana pentingnya peran seorang wanita bernama Maria Magdalena dalam kehidupan Kristus.

Para ahli konspirasi mengatakan bahwa mungkin ini merupakan sikap yang dilakukan oleh otoritas religi yang berkuasa ketika itu untuk mengerdilkan peran wanita, yang memang pada jaman Yahudi tidak diberikan porsi penting dalam masyarakat, dan bahkan pada masyarakat Yahudi lama, wanita tidak diperkenankan untuk membaca Taurat. Penguatan pada argumentasi ini didasarkan pada perkataan dalam Injil Tomas (bagian naskah gnostik dari Naskah Laut Mati yang ditemukan di Mesir, dan ditolak kebenarannya oleh gereja):

“..akhirnya bangkit dan berbicara melawan Maria Magdalena. Menyatakan bahwa seorang wanita tidaklah berharga dalam kehidupan spiritual, dua lelaki ini menuntut agar Maria dikeluarkan dari jemaah. Dan Yesus menjawab dengan sedikit humor,’Lihatlah! Aku akan membimbingnya agar membuatnya seperti lelaki, dan dia mungkin juga akan menjadi jiwa yang hidup seperti layaknya kalian, para lelaki dan…lelaki dan perempuan (diciptakan) untuk menjadi satu, supaya lelaki tidak akan menjadi lelaki dan perempuan tidak akan menjadi perempuan’” (Injil Tomas, ayat 114).

Kecemburuan para rasul lelaki terhadap Maria (wanita) juga tergambar dari Injil Maria Magdalena (18):

“Apakah (Yesus) benar-benar berbicara sendirian dengan seorang wanita dan tidak berbicara terbuka (dengan) kita? Apakah kita harus berpaling dan hanya mendengarkan padanya? Apakah Dia lebih memilih dia daripada kita?”

Ayat itu sekaligus menguatkan posisi istimewa Maria Magdalena sebagaimana yang terdapat dalam Injil Philip: ‘Tuhan mencintainya (Maria Magdalena) lebih dari semua murid-murid yang lain…’

Tiga Injil, yang ketiganya diragukan kebenarannya oleh gereja, berkata tentang dua masalah yang menjadi kunci yang saling terkait dan saling mendukung kebenarannya, melawan 4 Injil Perjanjian Baru, yang seolah-olah tidak mengakui peran penting Maria Magdalena dalam kehidupan Kristus, dan bahkan ada penafsiran yang justru memojokkan sosok wanita ini sebagai pendosa. Apakah Rasul Philip, Petrus, Tomas, dan Maria yang melakukan konspirasi, atau justru penulis-penulis Injil pada masa kekuasaan yang justru berkonspirasi mengerdilkan peran Maria Magdalena? Pikirkanlah…



[1] Profesor Bovon dari Sekolah Tinggi Teologi Harvard, tahun 2006 menyebutkan bahwa Mariamne atau Maria Magdalena adalah saudara perempuan Philip. Bovon juga mengatakan peran Mariamne sebagai Rasul, sama dengan Philip dan Bartholomeus.

[2] Ada bagian yang berlubang di teks aslinya, tapi banyak sarjana meyakini bahwa isi aslinya adalah: ‘pada mulut/bibirnya’

[3] Teks hanya menyebut nama Maria, tapi para sejarawan mengaitkan relevansi isinya dengan naskah-naskah lain yang ditemukan, dan menyimpulkan bahwa Maria yang dimaksud adalah Maria Magdalena

Tubuh atau Jiwanya yang Naik?

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kisah Para Rasul 1:6-11).

Cukup aneh mengetahui mengapa tidak ada kisah mengenai kenaikan Isa Al Masih dalam Injil Matius. Padahal kisah kenaikan ini adalah episode yang sangat penting dalam tradisi Kristen, sebab peristiwa tersebut menandakan kembalinya ‘Sang Anak’ kepada Bapanya di surga. Injil Markus dan Lukas menyebutkan bahwa Yesus telah naik ke langit dan diletakkan di sebelah kanan Bapa. Keyakinan inilah yang menjadi kepercayaan milyaran umat Kristen sedunia. Paus, uskup, pendeta mengajarkan yang demikian pula kepada umatnya.

Satu pertanyaan tersisa, apakah itu berarti Yesus mati dua kali? Pertama di tiang salib, dan ‘kematian’ kedua adalah 40 hari setelah kebangkitannya dari kubur batu. Pemahaman yang ditanamkan kepada umat, ruh ilahiah Yesus lah yang naik ke langit, sedangkan tubuhnya mengurai bersama cahaya. Ada juga yang menafsirkan bahwa, raga kasarnya juga ikut naik ke langit. Perjanjian Baru dan otoritas gereja mengajarkan bahwa tidak ada jasad kasar Yesus yang dikuburkan setelah kenaikannya itu. Dari sini, kericuhan arkeologi pun bermula.

Penemuan Kain Kafan Turin

Selembar kain kafan lusuh berukuran lebar 110 cm dan panjang 436 cm, diyakini sebagai kain kafan yang menyelimuti jasad Yesus. Banyak penelitian telah dilakukan untuk membuktikan keaslian kain tersebut. Sejak tahun 1969, Profesor Max Frie melakukan serangkaian pengujian terhadap material serbuk-serbuk yang tertinggal di kain itu, yang hasilnya menguatkan dugaan keaslian kafan. Uniknya terdapat gambar seorang pria berjanggut pada permukaan kain, yang diyakini sebagai Yesus sendiri, lengkap dengan tulisan yang memberikan identitas pemilik kain tersebut.

Percobaan lain dilakukan oleh Kurt Berna dari Lembaga Penelitian Jerman, dan dalam sebuah suratnya kepada Paus John ia menyampaikan:

Paduka yang mulia, dua tahun yang lalu, Lembaga Penelitian Kain Kafan Suci Jerman telah mempersembahkan hasil-hasil penelaahan Kain Kafan yang disimpan di Turin kepada Paduka dan masyarakat luas. Selama dua puluh empat bulan yang lalu itu, para ahli yang berbeda dari berbagai Universitas di Jerman telah berusaha untuk tidak membenarkan penemuan-penemuan yang luar biasa itu, tetapi mereka gagal. Walaupun begitu, mereka berdalih bahwa ilmu pengetahuan mereka memungkinkan mereka dengan mudah untuk tidak membenarkan kesimpulan-kesimpulan kami, namun akhirnya mereka mengakui kalah dan sekarang mereka mengakui kembali dan bahkan menyetujui sahnya penelaahan ini; dan memang hal ini penting sekali bagi kedua agama, yakni Yahudi dan Kristen. Kiranya sangat berlebihan dan tidak pada tempatnya di sini untuk menyebutkan berapa banyak komentar-komentar yang timbul di berbagai media massa internasional.

Karena tak seorang pun dapat mengingkari dengan yakin akan hasil-hasil penelitian tersebut, maka Lembaga yakin bahwa penemuan-penemuan tersebut akan menimbulkan tantangan terbuka bagi seluruh dunia. Telah terbukti dengan meyakinkan, bahwa Yesus Kristus telah dibaringkan di Kain Kafan itu, setelah penyaliban dan pencabutan mahkota duri.

Penelaahan-penelaahan telah menetapkan dengan begitu pasti bahwa tubuh orang yang disalib itu telah diselimuti dengan kain itu dan dibiarkan beberapa saat lamanya. Dari sudut pandang ilmu kedokteran, telah terbukti bahwa tubuh yang dibaringkan di Kain Kafan itu tidak mati karena jantungnya masih tetap berdenyut. Bekas-bekas darah mengalir, keadaan ini dan secara alami, memberikan bukti ilmiah bahwa apa yang dinamakan hukuman mati itu benar-benar tidak sempurna. Penemuan ini menggambarkan, bahwa apa yang diajarkan Kristen masa kini maupun yang dahulu tidaklah benar.

Paduka, ini adalah kesaksian ilmu pengetahuan. Tak dapat diingkari, bahwa penelaahan Kain Kafan Suci sekarang ini sangat penting sekali artinya, karena melibatkan ilmu pengetahuan (science) dan bukti sejarah. Foto-foto Kain Kafan Suci yang telah dipersiapkan pada tahun 1931 dengan izin Paus Pius XI yang tegas, menambah lengkapnya perbendaharaan untuk membuktikan benar tidaknya hasil-hasil penelaahan saat ini. Untuk membuktikan bila hal itu tidak benar, maka di sini penting sekali mengemukakan pengujian-pengujian berikut ini:

a. Menggunakan percobaan kimia modern (yang dianalisa oleh miscroscope dan dengan penelaahan-penelaahan semacam itu) pada bekas bekas darah yang menetes yang terdapat di Kain Kafan Suci tersebut yang dihasilkan oleh hentakan-hentakan jantung yang masih tetap berdenyut.

b. Pengujian menggunakan sinar “X” dan sinar infra merah serta sinar ultra-violet maupun dengan menggunakan metode-metode modern lainnya.

c. Didata dengan peralatan jam atom dan metode karbon 14.

Untuk menganalisa kain kafan dengan tepat, hanya diperlukan 300 gram. Ini tak akan merusak Kain Kafan Suci, ia hanya memerlukan carikan 2 cm saja lebarnya dari sisi kain itu, yang panjang kain itu 4,36 meter. Dengan cara ini, bagian-bagian penting dari kain itu tidak akan rusak seluruhnya. Tak ada seorang Kristen pun di dunia ini, kecuali Paduka tentunya sebagai seorang Paus Gereja, yang dapat mengurus barang pusaka suci itu.

Hasil-hasil penelaahan Lembaga dan perwakilan-perwakilan lain yang hanya dapat menolak, apabila pengujian-pengujian ilmu pengetahuan diselenggarakan. Saya tidak mengerti, mengapa Gereja tidak mau memberi izin terhadap penelaahan-penelaah Kain Kafan Suci itu. Saya tidak percaya bahwa hal itu akan menyebabkan Gereja merasa takut: Mengapa harus begitu? Lembaga pun tidak perlu merasa takut, sebab hal itu mengemukakan penelaahan-penelaahan yang tulus dan suci, ia menggunakan metode-metode yang berlaku. Dengan keyakinan penuh, kami dapat menyatakan bahwa tak seorang pun bahkan di dunia ini yang tidak dapat membenarkan penemuan-penemuan itu, yang menimbulkan tantangan terbuka pada Lembaga.

Sebagaimana telah digambarkan, hanya dengan menunjukkan benar atau tidaknya fakta-fakta dan analisa-analisa ilmu pengetahuan saja yang dapat melengkapi hasil-hasil yang diharapkan.

Mengingat penelaahan yang luar biasa ini, kami dengan rendah hati memohon kepada Paduka untuk memberikan perhatiannya, dengan demikian Gereja dapat membawa perkara itu kepada suatu kesimpulan. Sejumlah para pengikut Gereja dan masyarakat lain mereka siap untuk menjawab panggilan apabila Gereja berkenan.

Atas nama Lembaga Penelitian Kain Kafan Suci Jerman dan rekan-rekan yang berkepentingan dalam penelitian ini, kami, sebagai penganut Katolik Roma, dengan ini memohon kepada Paduka untuk memberikan izin hal tersebut karena pentingnya bukti-bukti yang mungkin bisa diperoleh.

Salam takzim pada Paduka.

Kurt Berna,

Penulis dan Sekretaris Katolik

Urusan Lembaga Penelitian Jerman

Apa makna yang tersirat dalam episode Kain Kafan Turin ini? Bahwa apa yang diyakini Paulus, sang Bapak agama Kristen, yang kemudian menjadi doktrin gereja, adalah bertentangan dengan pembuktian ilmiah. Rasul Paulus dan geraja telah mendoktrinkan bahwa Yesus mati di tiang salib. Titik!

Hasil penelitian para sarjana membuat kepausan menjadi serba salah, sebab pengakuan absolut terhadap bukti-bukti ilmiah bisa jadi akan mengacaukan keimanan umat yang terlanjur menyakini doktrin rasul Paulus, si pencetus kekristenan. Namun Paus John XII mengambil jalan ‘aman’ dengan mengeluarkan maklumat yang dicetak di Koran Vatikan ‘L’Osservatore Romano’, tanggal 2 Juli 1960: “Keselamatan Sempurna Tubuh Yesus Kristus”. Dalam hal ini Paus menyatakan kepada para Uskup Katolik yang mengakui dan menyebarkan berita-berita ini, bahwa keselamatan sempurna umat manusia adalah akibat langsung dari darah Yesus Kristus, dan kematiannya akhirnya tidaklah dianggap penting.

Kesimpulan tersebut bukannya tanpa perlawanan. Para ahli penanggalan karbon dari Universitas Oxford, Zurich dan Arizona, membuktikan bahwa kain kafan itu adalah hasil pemalsuan pada abad ke empat belas, jauh setelah wafatnya Kristus. Vatikan sendiri pun seolah enggan berdiskusi panjang dan berdebat mengenai asli tidaknya kain ini. Keengganan tersebut tentu saja meninggalkan pertanyaan, ada apa? Apakah ini sebentuk konspirasi untuk menutupi kebenaran, atau ada pihak-pihak tertentu yang khawatir jika kebenaran terungkap? Keimanan milyaran umat menjadi taruhannya. Apakah tubuh Yesus benar mengurai bersama cahaya atau ia tak ubahnya manusia lain yang mengurai jasadnya dimakan waktu?

Penemuan Osuarium Yesus Putra Yosef

Fakta-fakta arkeologi modern seolah tak henti-hentinya menggugat kebenaran kisah-kisah dalam Perjanjian Baru. Keingintahuan yang maha dahsyat dicurahkan untuk membuktikan benar tidaknya tradisi kekristenan yang ‘terlanjur’ diyakini oleh hampir separuh populasi bumi. Bagaimana tepatnya Yesus naik ke surga. Apakah raga manusiawinya juga ikut bersama ruh suci ke tempat Bapa?

Sebuah makam dibawah tanah hampir saja dihancurkan alat berat ketika Israel hendak membangun kawasan perumahan di wilayah Yerusalem pada tahun 1980. Otoritas berwenang segera memanggil ahli-ahli dari Israeli Antiques Authority untuk memeriksa makam kuno tersebut. Amos Kloner, Yosef Gath, Eliot Braun, dan Shimon Gibson kemudian menggali makam tersebut. Ada 10 peti batu kapur, yang lazim disebut sebagai osuarium, yang digunakan sebagai wadah bagi jenazah orang-orang yahudi pada masa itu. Dari kesepuluh kotak batu tersebut, ada beberapa kotak kotak yang memiliki identitas jelas terpahat di permukaan batu: Yesus putra Yosef, Maria, Matius, dan Yudah putra Yesus. Meskipun sempat mencuat kecurigaan pada nama Yesus dan Maria, namun para ahli tersebut mengacuhkan gejolak dalam hati mereka, dan mengasumsikan bahwa nama-nama tersebut hanya kebetulan, dan mereka menganggap nama Yesus dan Maria adalah nama yang umum bagi orang Yahudi kuno.

Misteri itu terdiam di rak Israeli Antiques hingga 25 tahun kemudian seorang wartawan Simcha Jacobovici menemukan kelompok nama yang mengundang tanya tersebut. Rasa penasaran membawanya menelusuri makam asli dimana osuarium-osuarium tersebut ditemukan. Makam tersebut terkenal dengan nama Makam Talpiot. Tidak puas hanya menduga-duga, maka para peneliti yang haus kebenaran tersebut pun melakukan tes DNA terhadap material tersisa pada peti bertuliskan Yesus putra Yosef dan Maria. Juga dilakukan penelitian lapisan patina untuk mengetahui umur osuarium. Hasil penelitian pada tahun 2005 oleh Carney Mattheson di laboratorium Paleo DNA Universitas Lakehead Ontario, menyimpulkan bahwa mitokondria dua residu DNA milik Yesus putra Yosef dan Maria tidak memiliki hubungan darah. Dari sini disimpulkan bahwa antara Yesus dan Maria merupakan suami istri, sebab kelaziman Yahudi ketika itu adalah melakukan penguburan keluarga yang sedarah dalam satu liang, atau bersama istri. Hipotesis mendalam pun dibuat dengan melakukan perhitungan probabilitas terhadap nama-nama di dalam makam. James Tabor, Simcha dan Charles Pelegrino, semakin meyakini bahwa jenazah Yesus pernah berada di osuarium Talpiot. Jika ini benar, sekali lagi akan membuktikan bahwa telah terjadi kekeliruan pada Perjanjian Baru.

Sulit untuk membuktikan siapakah pihak-pihak yang melakukan konspirasi, apakah para sarjana atau justru pihak gereja? Atau bisa jadi itu bukan merupakan konspirasi, tapi lebih sebagai idealisme yang harus dipertahankan oleh masing-masing pihak. Masing-masing tentu memiliki motif tertentu. Vatikan dengan tegas menolak meyakini bahwa makam Talpiot adalah makam Yesus. Terlebih dalam tradisi Perjanjian Baru, Maria Magdalena ‘bukan siapa-siapa’ Yesus, apalagi sebagai istri yang memberi Yesus seorang anak bernama Yudah. Imej Maria Magdalena dalam Perjanjian Baru, adalah wanita pendosa, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Paus Gregory I pada ayat Lukas.

Namun tidak semua petinggi gereja berseberangan dengan hal tersebut. Pada tanggal 5 April 2007, Pendeta Ioanes Rakhmat, seorang dosen kajian Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, seolah-olah membenarkan penemuan makam Yesus tersebut. Ia menuliskan dalam surat kabar Kompas, bahwa kenaikan Yesus hanya bersifat metafora. Kutipan lengkapnya adalah sebagai berikut:

"Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi. Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subyektif, bukan dalam realitas obyektif. Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: ia telah diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi. Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi, yang dibutuhkan adalah "tubuh rohani", bukan tubuh jasmani protoplasmik.

Berdasarkan temuan itu, Rakhmat memberikan hipotesa bahwa kebangkitan Yesus adalah metafora, bukan kebangkitan daging sebagaimana dipercayai umat Kristen selama ini.